Spiritualitas Mendongkrak Kinerja
 22/01/2015   admin       kinerja    spiritual

Pergumulan antara spiritualisme dan mate­rialisme telah terjadi bahkan jauh sebelum manusia menempati bumi ini. Perbedaan isme dan cara pandang ini terjadi antara Malaikat dan Iblis. Ketika Allah memerintahkan keduanya me­nyembah manusia pertama, Adam. Malaikat melihat Adam dari sisi spiritual yaitu makhluk yang telah di­tiupkan Ruh ciptaan Allah dalam jiwanya. Karena itu Malaikat serta merta bersujud pada Adam. Namun Iblis sebaliknya, ia melihat Adam dari fisiknya, dari materi tubuh Adam. Iblis yang terbuat dari api merasa dirinya tidak pantas sujud pada manusia yang terbuat dari tanah.

Pergulatan pemikiran ini terus berlangsung pada manusia hingga kini. Manusia terbuat dari dua unsur utama yaitu jasad dan ruh, karena itu pandangan­nya pun terbagi antara materialisme yang mementingkan fisik dan spiritualisme yang meng­utamakan unsur ruh.

Kecenderungan manusia pada materi disebabkan karena materi pula yang menyusun fisik manusia. Unsur tubuh manusia adalah tanah yang menjadikan manusia memiliki tulang, daging, darah, dan semua anggota tubuh lainnya. Ketika manusia meninggal du­nia maka jasad atau fisik manusia yang berasal dari tanah itu akan kembali ke tanah pula. Sifat manusia dipengaruhi juga oleh unsur tanah. Unsur materi yang membuat manusia cenderung tertarik ke bumi, pada segala yang berurusan dengan dunia.

Sedangkan ruh yang ditiupkan di hati manusia ada­lah ruh ciptaan Allah SWT. Ruh yang dimaksud bukanlah nyawa yang juga dimiliki manusia, namun ruh sifat mulia yang diamanahkan Allah pada manusia.

Ruh itulah yang membuat manusia menjadi makh­luk spiritual dan merindukan kembali penciptanya dan menuntun manusia untuk senantiasa berbuat ke­baikan. Ruh ini pula yang membuat manusia senantiasa memiliki visi dan misi dalam hidupnya dan selalu mendorong manusia untuk mengaplikasikan sifat-sifat mulia-Nya.

Jika fisik senantiasa mengajak manusia tinggal di bumi, maka ruh senantiasa mengajak manusia terbang ke atas. Manusia senantiasa berada dalam dua tarikan yaitu fisik yang terbuat dari tanah dan mengajak manusia cederung materialistis dan ruh yang membawa sifat-sifat ilahi.

Permasalahan manusia adalah bagaimana merea­li­sasikan ruh dan kemuliaan di dalam unsur tanah yang hina dina. Bagaimana agar dikotomi ini tidak membuat manusia terbelah hanya pada satu sisi, menjadi ma­terialis yang cenderung hanya tertarik pada hal-hal yang sifatnya duniawi, atau menjadi spiritualis yang hanya memikirkan akhirat sehingga terpinggirkan dari percaturan dunia.

Spirit dalam Dunia Kerja

Pernahkah Anda melihat bagaimana para seniman mencipta karya seninya? Saksikanlah bagaimana pe­lukis profesional saat menyapukan warna ke atas kan­vas, atau pematung saat membuat goresan dan pahatan. Sedemikian asyiknya mereka, bahkan seakan tak peduli dengan sekelilingnya. Ia bisa lupa waktu bahkan juga bisa tidak merasakan lapar. Energi yang dia gunakan bukan dari energi fisik berupa asupan makanan, tapi sesuatu yang dahsyat yang menimbulkan dorongan untuk mencurahkan segala ide, gairah, dan potensinya. Hasilnya sebuah mahakarya yang luar biasa, yang meng­getarkan hati orang-orang yang melihatnya, bah­kan melewati lintasan abad dan zaman.
Demikian juga pemusik profesional saat berlatih, mereka menghabiskan ribuan jam dengan penuh kegai­rahan dan sangat menikmatinya. Saat pertunjukkan tiba, mereka pun ‘flow’mengalir hingga seolah berada di dunia lain.

Mereka yang sukses adalah selalu tampak menik­mati apa yang dikerjakannya. Lalu, bila para seniman atau pemusik bisa berada di puncak pengalaman ki­kerja seperti di atas, bagaimana dengan karyawan yang bekerja di perusahaan? Apa yang harus dilakukan pihak manajemen agar tercipta kondisi mental sebagaimana para seniman atau pemusik?

Lembaga konsultan SDM selama ini sibuk mem­pelajari bagaimana agar terjadi peningkatan kinerja pada karyawan sehingga mereka tidak hanya bekerja karena beban atau menunggu gajian. Para konsultan ini mencari formula terbaik bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang menginspirasi dan menimbul­kan energi luar biasa yang dapat meningkatkan ke­percayaan diri dan produktivitas individu.

Sedemikian lama dunia meyakini bahwa kunci ke­suksesan seseorang di dunia kerja adalah karena kecerdasan intelektualnya. Karena itu perangkat pe­nyeleksian karyawan selalu berdasarkan test IQ. Ke­ada­an ini berubah kemudian ke­ti­ka penelitian membuktikan ternyata peran IQ hanya 6-20%. Sejak itulah dimulai era EQ atau kecerdasan emosi.

Namun kemudian muncul ke­sadaran baru bahwa ada sesuatu yang diperlukan dan sangat penting bagi terciptanya kondisi kinerja terbaik. IQ dan EQ saja ternyata tidak cukup. Dalam riset McKin­sey jawaban terbanyak dari para eksekutif tentang kinerja puncak pada 10 tahun terakhir hanya se­dikit berkaitan dengan IQ dan EQ. Hal yang dianggap penting dan berpengaruh pada kinerja puncak adalah: kegairahan; tantangan; dan sesuatu yang dianggap berharga dalam hidup; semua itu akan mem­buat perbedaan dalam kinerja mereka.

Karena itu kini muncul istilah untuk menyebut kategori ketiga da­lam bekerja yang dikenal seba­­gai Meaning Quotient (MQ). Ji­ka MQ di sebuah lingkungan perusa­haan rendah, pekerja akan memberikan le­bih sedikit energi pada pekerjaannya, dan memandang pekerjaan “hanya sebuah pekerjaan” yang memberi mereka gaji.

Dengan menyadari makna be­kerja seorang karyawan memahami bahwa yang mereka kerjakan adalah sesuatu “yang berarti,” yang membuat mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan benar-benar penting, atau bahwa hal itu akan membuat perubahan yang ber­arti untuk orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa makna seper­ti itu mendorong produktivitas kerja yang lebih tinggi.

Psikolog Mihaly Csikszentmi­halyi yang meneliti secara berbeda keadaan mental yang memuncul­kan performa yang luar biasa da­lam seni, olahraga, atau bisnis, atau seni. Dari penelitiannya ia menyimpulkan bahwa kemampu­an inti mereka untuk meme­nuhi tujuan atau tantangan mencipta­kan sesuatu yang ia sebut “flow”. Ia menemukan bahwa orang yang sering mengalaminya lebih pro­duk­tif dan menemukan kepuas­an yang lebih besar. Mereka menetapkan tujuan bagi diri mereka sendiri untuk meningkatkan kemampuan mereka, sehingga seolah menim­bul­kan energi tak terbatas. Mere­ka menunjukkan kesediaan untuk mengulang pekerjaan bahkan ji­ka mereka tidak dibayar untuk melakukannya.

Apa yang dikatakan tentang ‘flow’ ternyata serupa dengan MQ. Penelitian menunjukkan bahwa karyawan yang bekerja di ling­kungan yang tinggi IQ, tinggi EQ, dan MQ nya juga tinggi, lima kali lebih produktif daripada rata-rata yang lainnya.

Orang yang memiliki MQ tinggi adalah sama dengan karyawan yang masuk kategori ENGAGED yaitu mereka yang ‘terlibat’ artinya mereka mencintai apa yang mereka kerjakan. Namun jumlahnya hanya 1 dari 4 karyawan atau sebanyak 26%. Sedangkan 2 dari 4 karyawan DISENGAGED 55% KARYAWAN ACUH. Mereka memencet mesin absensi, tetapi hati dan pikiran me­­reka kemana-mana. Terakhir, 1 dari 5 Karyawan ACTIVELY DIS­ENGAGED 19% KARYAWAN AKTIF ACUH. Mereka karyawan acuh yang menyebarkan kegalau­annya, seberapa jauh mereka tidak puas dengan bosnya, rekan kerja atau perusahaan pada umumnya. (Sumber: Galup Management Journal 2001).

Hal itu selaras dengan apa yang pernah disampaikan oleh Wa­kil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, bahwa umumnya hanya 20% pegawai yang merasa terlibat (ENGAGE) sedangkan 80%-nya mereka tidak merasa terlibat dengan tempat kerjanya. Mereka da­tang mengisi absen, membaca ko­ran, browsing internet, makan siang, bekerja ala kadarnya, sore pu­lang kembali ke rumahnya.

Membahas mengenai MQ se­sung­guhnya sama dengan apa yang saya paparkan tentang penting­nya Spiritual Quotients SQ. SQ adalah kecerdasan manusia yang mampu memaknai segala sesuatu. SQ dapat mengatasi persoalan ma­nusia ketika IQ dan EQ sudah tak mampu lagi diandalkan. Inilah yang diperlukan para karyawan per­usahaan kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan jauh dari se­kedar materi dan untuk kepen­ting­an pribadi namun juga mem­be­ri dampak luas pada pelanggan dan masyarakat luas bahkan sebagai pengabdian pada Sang pencipta.


  Username
  Email
Komentar  


Pengumuman  

  2019-11-11

Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Seleksi CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-07

Formasi Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-05

Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-03-22

Pengumunan Hasil Seleksi Terbuka Calon Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka Tahun 2019

Menu Lainnya 

Hubungi Kami  

  BKPSDM ( Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia )
Jalan Jendral Ahmad Yani No.1 - Majalengka ( 45418 )
Telp./Fax. (0233)281366
Email bkdmajalengkakab@gmail.com
Share :