Rambu Rimba
 19/12/2015   admin       bkd    majalengka

Pagi hari, dimulai dengan syukur, dikemas dalam semangat untuk mencapai keberhasilan hari itu; kita semua bergerak menuju aktivitas. Ada yang sekolah, kuliah, bekerja, beraktivitas dan usaha. Semua perlengkapan dan bekal tersedia dibawa, semua siap dan tiba saatnya meninggalkan kediaman.

Kemudian perlahan bergerak menuju jalan. Dan rimba pun terkuak di depan mata. Mulai dari bunyi klakson bertalu-talu, mesin menderu-deru, asap mengumpul tebal, bis tua terseok-seok miring sebelah, gerobak, tumpukan sampah, orang lalulalang menyebrang “adu nyali” dengan kendaraan, kondektur berteriak-teriak menawarkan jasanya, taksi menyerobot minggir mengambil penumpang, bajaj memotong jalan di antara jarak kendaraan sempit, cermat mengawasi “perangkap” lubang-lubang besar menganga di jalan, motor beradu keahlian mencari celah jalan, dan wajah-wajah kesal di balik kemudi.

Ah, Jakarta. Petualangan di jalan kota besar ini setiap hari, mirip rimba. Tetapi, tunggu dulu. Keadaan ini masih tergolong “biasa”. Coba perhatikan, jika hujan turun deras malam sebelumnya atau pada waktu subuh, maka gemuruh kekacauan jalan, jauh melebihi rimba sesungguhnya. (Setidaknya saya berpikir begitu).

Kemudian, ketika tiba di tempat tujuan, separuh keadaan fisik dan mental kita telah sangat kelelahan “bertempur” di rimba jalanan. Untuk mendapati tugas dan tantangan pekerjaan, kita merasa sering tak bergairah. Serasa tak sanggup mengembalikan semangat mula-mula yang kita miliki tadi pagi di rumah. Produktivitas, konsentrasi dan ketenangan kita telah dikuras energinya dengan kelelahan fisik dan mental dalam perjalanan. Dibutuhkan dorongan yang sangat kuat, motivasi besar, dan keinginan yang tinggi untuk mengembalikan keadaan diri kita siap dalam tantangan profesi kita hari itu.

Ada apa dengan jalan-jalan kita? Mengapa begitu sulit kita menikmati fasilitas umum ini dengan nyaman? Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian hanya bergulir membentuk rangkaian faktor penyebab dalam lingkaran tak berujung, terus-menerus tanpa solusi.

Mari kita melakukan sesuatu setiap hari untuk “rimba” kita ini. Ayo tetapkan rambu-rambu di dalamnya. Mengapa harus kita yang melakukannya? Mengapa tidak? Sebagai seseorang dengan kepemimpinan spiritual, seharusnya kita memiliki kecerdasan emosi dan spiritual yang tercermin dalam perilaku keseharian kita, termasuk ketika menggunakan fasilitas umum bersama. Kebesaran jiwa kita, bukan terlihat hanya dari kalimat-kalimat motivatif yang kita lontarkan, keberhasilan pencapaian yang kita raih, dan orang-orang yang berhasil kita pengaruhi mengikuti teladan kita di kantor dan organisasi, tetapi juga dilihat dari tabiat-tabiat kecil yang kita lakukan saat kita berkendaraan di jalan.

Menjadi tertib sedikit, pasti tidak merugikan Anda. Coba lihat sekeliling Anda, berapa banyak kendaraan “bandel” lalu menjadi pusat keruwetan jalan hanya karena tidak mau mengalah menanti giliran dan memalang jalan karena memaksa mencari celah dalam kemacetan tak peduli ada rambu yang justru membuat parah keadaan. Jujur saja, sebenarnya Anda bisa mengubah “rimba” menjadi “nirwana” setiap hari di perjalanan menuju kantor dan pulang ke rumah.

Rambu Mental: Dimulai dari Pikiran Anda

Berawal dari bagaimana Anda berpikir tentang pentingnya rambu ditaati, meski tak sedang dilihat polisi, sebenarnya awal sederhana yang menumbuhkan sikap disiplin di jalan. Anda adalah faktor keberhasilan mengubah keadaan rimba menjadi nirwana dalam perjalanan. Lakukanlah. Karena, dengan taat, Anda tidak merasa gelisah dan takut ketahuan melanggar apa pun. Anda tenang berkendara dan tiba dengan selamat. Meski orang lain menyerobot, dan tidak mematuhi rambu, setidaknya Anda telah membuktikan bahwa Anda berbeda dari kebanyakan orang di jalan.

Jika dibiasakan, kendaraan lain di belakang dan samping Anda akan meniru perilaku Anda, dan nirwana pun dinikmati bersama. Pikirkan tentang ketenangan dan kenyamanan di jalan. Pusatkan perhatian Anda pada suasana tertib, dan tenang. Kemudian, kerjakan dengan sabar mengikuti petunjuk dan rambu jalan yang ada. Pikiran positif itu akan menyemangati Anda pagi itu, dan menyertai perjalanan karir sepanjang hari. Manfaatnya untuk Anda lebih dulu, dan tertib lalulintas sudah dimulai dari kendaraan Anda.

Rambu Perilaku: Coret yang Tidak Perlu

Sama halnya ketika kita menghadapai ujian dengan banyak pilihan jawaban, dan diminta menyoret pilihan yang tidak perlu dengan keadaan kita, maka demikian pulalah keadaan hidup kita setiap hari. Jika Anda menghadapi hal-hal yang tidak perlu Anda pikirkan dan masukkan dalam benak Anda, coret saja.

Mengapa menambahkan beban hal-hal yang tidak penting ke dalam pikiran dan hati Anda? Kebanyakan tekanan mental yang terjadi selama berkendaraan dari rumah ke tempat kerja, terjadi karena beban emosi yang berlebihan. Seperti kesal dengan kendaraan di depan Anda, dengan tukang parkir, dengan motor yang memotong jalan, menglakson sekeras-kerasnya sehingga kendaraan lain membalas dengan suara bertalu-talu. Bahkan, tak jarang mengomeli tiang lampu hanya karena warnanya berubah merah sebelum Anda dapat melaluinya. Berapa banyak tekanan itu Anda masukkan sendiri ke dalam pikiran Anda dan membuat Anda kelelahan mental sebelum Anda bekerja, hanya karena Anda tidak mencoret yang tidak perlu.

Ayo, belajarlah untuk memilah, antara yang perlu dan tidak perlu. Jika tidak benar-benar terdesak, tidak perlu membunyikan klakson panjang berulang-ulang. Jika kendaraan di depan berhenti mendadak, sebenarnya seberapa keras pun Anda mengomel, ia tak akan mendengarkan juga. Yang penting, Anda tidak menabrak, kan? Mengomeli tiang lampu lalu-lintas pun tidak membuatnya mngubah warna seketika, jadi tidak perlu Anda memarahinya, bukan? Nikmati perjalanan, meski dalam keadaan macet, panas berdebu.

Daripada mengeluh, lakukan dan pikirkan hal-hal yang konstruktif selama dalam perjalanan. Dengarkan musik atau dendangkan nada dari mulut Anda. Itu adalah tindakan sederhana yang dapat Anda biasakan dan tularkan kepada yang lain. Temukan dan ciptakan nirwana itu bagi Anda, dengan menyoret bagian yang tidak perlu.

Perubahan bukan hanya perlu dipikirkan, dibicarakan dan ditimbulkan, perubahan perlu dibiasakan. Daripada selalu terjebak dalam rimba kemacetan jalan setiap hari, mengapa tak membiasakan menciptakan nirwana untuk kenyamanan mental Anda dulu, dan menumbuhkan disiplin pada waktu yang bersamaan? Tidak susah bukan, memasang “rambu” rimba?


  Username
  Email
Komentar  


Pengumuman  

  2019-11-11

Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Seleksi CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-07

Formasi Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-05

Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-03-22

Pengumunan Hasil Seleksi Terbuka Calon Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka Tahun 2019

Menu Lainnya 

Hubungi Kami  

  BKPSDM ( Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia )
Jalan Jendral Ahmad Yani No.1 - Majalengka ( 45418 )
Telp./Fax. (0233)281366
Email bkdmajalengkakab@gmail.com
Share :