Menjadi Berkomitmen
 15/04/2015   admin       himbauan    saran    semangat

 

 

Menjadi berkomitmen pasti terasa sangat sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh seberapa besar bobot tingkat kapabilitas dan kapasitas pribadi setiap orang.

 

Semua orang pasti pernah merasakan saat serba mudah dan enak berkomitmen, dan juga pasti pernah merasakan masa-masa tidak enak dan kesulitan dalam berkomitmen, kesulitan dan rasa ketidakenakan itu biasanya ditandai dengan adanya penyimpangan antara niat dengan tindakan atau perbedaan antara kata dan perbuatan.

 

Mungkin penyebabnya karena sikap malas atau kelupaan, kesemuanya pasti sangat ditentukan tingkat kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Ini terbukti biasanya ketika tingkat kemampuan orang berkomitmen rendah, sangat jelas tercermin dari sikap dan pola perilakunya. Di awal kelihatannya masih kuat, seiring dengan berjalannya waktu, seminggu masih nampak tegar dan kuat memegang komitmen. Tetapi cepat atau lambat ia mulai malas, loyo, lemas, bahkan kelihatannya sudah mulai lari dari tanggung jawab, dan sudah kehilangan rasa empati, bahkan sudah kehilangan rasa kasih sayang.

 

Rasa enak dan kemudahan dalam menjaga kontinuitas kestabilan sikap berkomitmen, sangat ditentukan oleh prinsip bahwa manusia memiliki kecenderungan selalu mencari kenikmatan dan menghindar dari kesengsaraan. Sehingga sangat sulit dipungkiri bahwa pemberian reward dan punishment masih dianggap sangat efektif dalam menumbuh kembangkan sikap komitmen.

 

Pengalaman berikut semoga dapat menjadi inspirasi, dan sekaligus menjadi wujud berbagi untuk yang lagi serius berusaha berkomitmen. Pada saat saya masih berumur remaja salah satu kebiasaan buruk saya sejak dari sekolah menengah tingkat atas adalah penikmat rokok karena pengaruh teman, dan kebiasaan itu terbawa terus hingga dibangku perkuliahan. Begitu sangat buruknya kebiasaan saya, sampai-sampai saya mengkait-kaitkannya dengan tingkat prestasi akademik saya. Entah mungkin hanya karena faktor sugesti, semua mata kuliah yang diujikan apabila pada saat ujian diperbolehkan merokok oleh pengawas ujian, dijamin nilai saya pasti bagus, sebaliknya bila pengawas ujian tidak memperbolehkan merokok hasilnya nilai saya jadinya kurang memuaskan.

 

Kebiasaan buruk itupun juga terbawa ketika saya menjadi tenaga edukatif, yang seharusnya menjadi contoh anak terdidik tetapi malah jadi kontra produktif. Duatu saat saya tersadar karena mendapat cobaan sakit keras. Pada saat itu saya mulai berkomitmen pada diri untuk menghentikan kebiasaan buruk merokok. Segala cara dan kiat sudah saya jalani namun hasilnya tidak ada pengaruh, nihil, bahkan semaking menjadi-jadi.

 

Dalam proses berusaha dan berupaya secara maksimal untuk berkomitmen menghentikan kebiasaan buruk merokok, saya nampaknya mendapat hidayah. Lalu kemudian mencoba salah satu kiat dengan menerapkan pendisiplinan diri, berkomitmen berhenti merokok dengan memakai prinsip reward and punishment secara bertahap.

 

Ketika saya melanggar tidak mengikuti komitmen saya, misalnya saya mengisap rokok melebihi jumlah bungkus atau batang yang telah saya rencanakan dan targetkan dalam setiap jam, hari, minggu, dan bulan, saya dengan sangat disiplin menerapkan sanksi pribadi yaitu saya harus memaksakan diri mengisap rokok yang paling tidak saya sukai.

 

Sebaliknya bila mana saya berhasil menjalani sesuai rencana, maka saya memanjakan diri berusaha dan berupaya menikmati kesukaan dan hobi saya, hingga pada akhirnya keberuntungan berpihak kepada saya sehingga saya berhenti merokok. Mohon maaf kepada sahabat yang masih penikmat dan kategori perokok berat, berhenti dari kebisaan merokok pasti sungguh sangat sulit. Saya pernah merasakan hal itu, tetapi ketika ada keinginan untuk berkomitmen, insya Allah pasti bisa.

 

Memang harus diakui bahwa komitmen merupakan hal yang paling susah untuk dijalankan, ibaratnya pelaut di tengah samudra, kita tidak bisa mengarahkan angin tetapi kita pasti bisa mengatur layar, sehingga saya terinspirasi bahwa merokok adalah salah satu kebiasaan, dan untuk merubah suatu kebiasaan harus dengan kebiasaan juga. Sehingga saya pun mulai mendisiplinkan diri ngotot berkomitmen menghentikan kebiasaan buruk merokok dan menggatikannya dengan kebiasaan baik dan produktif untuk tidak merokok.

 

Komitmen juga bagaikan tali ikatan dan akan menjadi landasan untuk komitmen selanjutnya, orang yang berkomitmen pada diri sendiri adalah orang yang berusaha membangun kapabilitas dan kapasitas pribadi mereka, sehingga sikap berkomitmen pada diri sendiri adalah merupakan inti kehidupan.


  Username
  Email
Komentar  


Pengumuman  

  2019-11-11

Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Seleksi CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-07

Formasi Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-05

Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-03-22

Pengumunan Hasil Seleksi Terbuka Calon Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka Tahun 2019

Menu Lainnya 

Hubungi Kami  

  BKPSDM ( Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia )
Jalan Jendral Ahmad Yani No.1 - Majalengka ( 45418 )
Telp./Fax. (0233)281366
Email bkdmajalengkakab@gmail.com
Share :