Memimpin dengan Kepala, Hati, dan Nyali
 22/10/2015   admin       bkd    majalengka    pemimpin

Kepemimpinan menempati posisi paling penting dalam sebuah organisasi baik di lembaga profit maupun non profit. Pemimpin ibarat nakhoda dalam sebuah kapal yang sangat menentukan arah maupun laju perusahaan. Banyak korporasi merosot hingga jatuh bangkrut disebabkan strategi dan kesalahan langkah yang digagas dan dikomandani para pemimpinnya.

Profil ideal mengenai seorang pemimpin selalu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan masyarakatnya. Situasi yang berbeda membutuhkan perilaku yang berbeda juga pemimpin yang berbeda. Dulu saat masyarakat masih mengandalkan sektor pertanian, yang menjadi keunggulan adalah jumlah dan kekuatan manusia serta sumber daya alam, sehingga sosok pemimpin yang diperlukan adalah pemimpin yang memiliki kekuatan.

Pada era informasi kemampuan manusia dalam menggunakan pikiran untuk mengolah data dan menghasilkan ide yang menjadi penentu kesuksesan, maka pemimpin yang sukses adalah yang memiliki kemampuan berpikir yang tinggi. Belakangan ini, kita mulai mengenal Era Kesadaran (Consciousness Age). Korporasi terbukti tidak bisa lagi hanya mengandalkan kekuatan intelektual, namun menyadari pentingnya modal budaya (Cultural Capital) atau pentingnya kekuatan nilai-nilai. Maka pemimpin yang diperlukan adalah pemimpin yang berpegang teguh pada nilai-nilai.

Sebagian besar organisasi diisi oleh para pemimpin yang parsial, seperti jajaran eksekutif yang super pintar namun tidak memiliki integritas dan tak menggunakan suara hati. Atau sebaliknya jajaran manajemen senior yang empatik mampu mengambil hati bawahan, tapi tidak mampu menyelesaikan tugas atau mengejar target. Apa yang diperlukan adalah para pemimpin organisasi yang tidak dapat diciptakan di ruang kelas saja.

Para pengamat organisasi dan kepemimpinan meyakini bahwa di era globalisasi, struktur dan tantangan yang kian kompleks, dan perubahan dalam dunia bisnis yang sangat cepat memerlukan kualifikasi para pemimpin menyeluruh. Pemimpin yang mampu “mengarahkan dari depan”, menentukan posisi dengan tepat, menciptakan pola hubungan yang penuh makna, dan “memikirkan kembali cara menyelesaikan banyak hal”, sekaligus memiliki keberanian dalam mengeksekusi dan menunjukkan hasil.

Bukan hanya pemimpin yang mampu menggerakan karyawannya melakukan pekerjaan, tapi juga mempertanyakan, 'Apa yang kita tidak lakukan dengan benar?' dan kemudian memiliki keberanian bertindak dengan cara benar.

Oleh karena itu kini muncul wacana tiga jenis kepemimpinan, yaitu kepemimpinan kepala (head), hati (heart), dan nyali (guts).

Pertama, Kepemimpinan Kepala. Mengapa kepemimpinan yang menggunakan kepala diperlukan? Kebijakan konvesional seringkali tidak tepat lagi digunakan untuk saat ini, semakin meningkat tingkat kesulitan, kompleksitas, dan kompetisi dalam bisnis menuntut perspektif atau cara pandang baru. Tanpa kemampuan untuk memikirkan kembali pendekatan konvensional, para pemimpin akan tertinggal.

Kedua, Kepemimpinan Hati. Pemimpin klasik selalu digambarkan berorientasi pada angka, berkompetisi, berfokus hanya pada tujuan. Pemimpin seperti ini sering gagal melihat kaitan antara orang dan bisnis. Dibutuhkan hati untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan bisnis. Pemimpin harus mampu membangkitkan antusiasme, kepercayaan, keyakinan, dan optimisme di antara orang-orang dalam organisasi mereka. Ini adalah model kepemimpinan berbasis pada hati nurani. Manfaat dari mempertahankan keseimbangan ini, yakni, berkelanjutan, inovasi, dan jaringan kerja.

Ketiga, Kepemimpinan Nyali. Para pemimpin harus mengembangkan keberanian untuk mengambil risiko agar menjadi seorang pemimpin efektif dalam dunia yang ambigu kompleks dewasa ini. Ada banyak cara untuk mengembangkan insting dan intuisi yang memungkinkan para pemimpin untuk mengambil risiko yang dibutuhkan. Beberapa pemimpin organisasi adalah ingin berada dalam zona nyaman dan penghindar risiko.

Ketika mengambil keputusan dalam dunia yang kompleks, para pemimpin harus menyeimbangkan risiko jangka pendek dengan hasil jangka panjang serta menentukan berapa banyak tekanan yang dapat mereka terima dari orang-orang yang harus memikul pengorbanan jangka pendek.

Sebagian besar keterampilan kepemimpinan, eksekusi lebih rumit dibandingkan pendekatan-pendekatan lain untuk menyelesaikan tugas seorang pemimpin. Karena itulah diperlukan nyali untuk mengeksekusi terobosan-terobosan yang akan dilakukan.

Pola kepemimpinan yang tepat untuk saat ini adalah yang mampu menggabungkan ketiga potensi kepala, hati, dan nyali. Pemimpin harus menguasai kompleksitas tugas dan mampu menguraikan kesulitan. Pemimpin juga harus mampu bertumpu pada hati yang bukan saja bisa meraih empati dan menginspirasi, namun juga berpegang pada nilai-nilai. Terakhir pemimpin harus memiliki nyali untuk mengeksekusi setiap gagasan baru meskipun tidak cukup data atau fakta yang mendukung.

Seorang pemimpin yang memahami pentingnya bertindak secara cerdas dengan kebijaksanaan hati, serta memiliki keberanian untuk mengahadapi ambiguitas dan kompleksitas adalah model kepemimpinan yang diharapkan dunia saat ini. Inilah pemimpin yang matang yang diperlukan untuk menghadapi tantangan abad 21.


  Username
  Email
Komentar  


Pengumuman  

  2019-11-11

Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Seleksi CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-07

Formasi Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-05

Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-03-22

Pengumunan Hasil Seleksi Terbuka Calon Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka Tahun 2019

Menu Lainnya 

Hubungi Kami  

  BKPSDM ( Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia )
Jalan Jendral Ahmad Yani No.1 - Majalengka ( 45418 )
Telp./Fax. (0233)281366
Email bkdmajalengkakab@gmail.com
Share :