Membangun Budaya Organisasi Pembelajar
 26/01/2015   admin       budaya    organisasi

Ekonomi global yang mulai tumbuh saat ini merupakan bagian dari transisi suatu “Ekonomi Pengetahuan”. Banyak ahli di bidang manajemen ataupun bisnis telah menganalisis peran pengetahuan atau modal intelektual dalam dunia bisnis yang mendominasi dan menentukan keberlanjutan dari suatu perusahaan. Konferensi tahun 1997 oleh Bank Dunia telah menempatkan pengetahuan dan “human capital” sebagai jantung dari agenda ekonomi. Oleh karena itu di tingkatan mikro (organisasi perusahaan) mulai dikenalkan konsep “knowledge management” ataupun “learning organization”.

Konsep knowledge management berangkat dari pemikiran bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan tidak akan bertahan lama di dalam perusahaan tersebut. Seiring dengan perjalanan waktu akan ada karyawan yang akan pensiun dan digantikan dengan karyawan baru. Permasalahan yang dihadapi adalah pengetahuan berharga yang dimiliki oleh karyawan senior juga akan pergi meninggalkan perusahaan. Sementara karyawan baru yang menggantikan tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk meneruskan pekerjaan karyawan senior tersebut. Di sinilah peran knowledge management akan sangat signifikan untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan yang terjadi.

Dalam praktik dan penerapannya, knowledge management sangat erat kaitannya dengan apa yang dinamakan learning organization. Organisasi dapat dikatakan sebagai sebuah learning organization apabila dalam pengelolaannya sudah mulai menerapkan konsep pengelolaan pengetahuan melalui sebuah knowledge management systems.

Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh knowledge management adalah meningkatkan produktifitas melalui penciptaan kreatifitas, inovasi melalui reuse atau penggunaan kembali best practice yang telah menjadi aset kapital intelektual dari perusahaan tersebut. Organisasi akan melakukan pembelajaran dengan sendirinya saat best practice ini dievaluasi, dimodifikasi, diperbaiki, dan ditingkatkan secara terus-menerus. Pada gilirannya produktifitas akan membawa dampak kepada efektifitas dan efisiensi kinerja perusahaan yang dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaan tersebut.

Penelitian Arie de Geus, tentang The Living Company (Harvard Business School Press, 1997), menemukan bahwa usia rata-rata harapan hidup perusahaan yang termasuk dalam 500 perusahaan terbaik versi majalah Fortune di Amerika adalah 40-50 tahun. Mayoritas per­u­sahaan tutup sebelum menginjak usia 15 tahun karena learning disabilities. Perusahaan-perusahaan yang memiliki usia rata-rata hidup ini diistilahkan sebagai The Li­ving Companies, The Great Companies, atau Genesis Enterprises, yang mana memiliki kemampuan untuk memanfaatkan knowledge sebagai aset utamanya sehingga perusahaan tersebut mampu melakukan pembelajaran yang lebih cepat dari pesaingnya.

The Living Companies misalnya, dicirikan oleh kemam­pu­annya dalam melihat perubahan yang terjadi pada lingkungan dan sekaligus mengantisipasinya sebelum dampak negatif mulai terlihat.

Contoh The Living Companies dalam penelitian Ari de Geus adalah perusahaan Shell. Perusahaan ini mampu melihat dan memprediksi masa depan dengan baik. Menurut de Geus, Shell memiliki kemampuan tersebut karena Shell mempunyai aset knowledge dalam bentuk memory of the future yang kuat serta menerapkan organisasi pembelajaran sebagai strategi utamanya. Aset knowledge ini didapat karena perusahaan mampu melakukan akuisisi ilmu pengetahuan, baik yang berada di dalam perusahaan (berasal dari para karyawannya) maupun dari luar perusahaan (melalui benchmarking yang efektif). Pengetahuan ini kemudian didistribusikan kepada seluruh pegawai, ditransformasikan dan dieksplisitkan menjadi inovasi atau sistem infrastruktur perusahaan. Semua inovasi atau sistem yang diciptakan diarahkan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Umumnya penerapan perusahaan dalam organisasi pembelajar ini berupaya memperbaiki produk, pelayanan, dan inovasinya melalui “continues improvement” dan “breakthrough strategies”. Cara ini menghasilkan konsep yang dikenal dengan nama Total Quality Mana­gement (TQM) dan Business Process Reengineering (BPR), dimana ditemukan bahwa kegagalan atau keberhasilan banyak ditentukan oleh faktor manusia, karakter, ke­terampilan dan budaya organisasi perusahaan.

Tantangan utama yang diha­dapi perusahaan dalam kaitannya dengan implementasi knowledge management dan transformasi menjadi learning organization adalah pada faktor sumberdaya manusia di perusahaan itu sendiri. Seringkali karyawan yang sudah terbiasa untuk melakukan tugas dan pekerjaannya dengan cara tertentu akan sulit untuk mengubah kebiasaan mereka tersebut. Penerapan knowledge management hanya akan menjadi beban dan tambahan pekerjaan dalam persepsi mereka.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan menciptakan budaya organisasi pembelajar (learning organization culture), yaitu dengan mulai dari “top” – membantu untuk menjadi penggerak, memulai dari masalah yang lama belum terselesaikan, membentuk task force dengan dorongan visi-misi, mendiagnosa organisasi, melakukan sinkronisasi dengan proses bisnis yang sedang berlangsung, mengkaji ulang proses dan sistem yang ada saat ini dengan audit untuk mengetahui capability gap termasuk audit budaya perusahaan, melakukan “kaizen” mengembangkan sistem baru.

Dapat disimpulkan bahwa de­mikian penting untuk mencipta­kan learning organization di dalam dunia bisnis untuk men­jaga keberlangsungan bisnis dan tercapainya The living companies karena hal ini dapat memberikan value-added yang lebih bagi pelanggan dan juga sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan secara berkesi­nambungan.

Namun perlu diingat bahwa untuk mendapatkan man­faat yang besar cukup banyak tantangan yang harus dihadapi dan tidak mudah untuk diatasi. Perlu kedewasaan dan kematangan da­lam mengelola organisasi serta ke­siapan untuk menghadapi perubahan yang dinamis dalam situasi bisnis yang tidak pernah menentu.


  Username
  Email
Komentar  


Pengumuman  

  2019-11-11

Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Seleksi CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-07

Formasi Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-11-05

Penerimaan CPNS Tahun 2019 di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka

  2019-03-22

Pengumunan Hasil Seleksi Terbuka Calon Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka Tahun 2019

Menu Lainnya 

Hubungi Kami  

  BKPSDM ( Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia )
Jalan Jendral Ahmad Yani No.1 - Majalengka ( 45418 )
Telp./Fax. (0233)281366
Email bkdmajalengkakab@gmail.com
Share :